Rabu, 05 Juni 2013

Ditinggal ke Gereja Rumah Ludes

HUMBAHAS - Minggu siang (2/6) sekitar pukul 10:30 Wib terjadi kebakaran yang menghanguskan 1 rumah warga. Peristiwa ini terjadi di Dusun Goting Bulu Desa Sosor Goting Kecamatan Dolok Sanggul Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Informasi dihimpun wartawan dari lokasi kejadian menyebutkan, pemilik rumah M. Simamora (alm) berserta istrinya boru Sipahutar yang tinggal bersama anak perempuanya.

Saat kejadian pemilik rumah sedang pergi ke gereja, jadi tidak mengetahui rumah yang ditempati ludes dilalap si jago merah. Masyarakat membantu pemadaman api, tapi usaha tidak bisa memberhentikan kobaran api yang besar. Masyarakat sanggat meyesalkan pemerintah humbahas,sebab di duga mobil pemadam kebakaran terlambat datang.

Kakan Kesbang H.Sinaga saat dikonfirmasi membenarkan ada kebakaran di Desa Sosor Goting. Peyebab kebakaran ini saya belum tau apa peyebabab nya kita tunggu aja dari pihak polisi, cetusnya

Kapolsek Dolok Sanggul H. Saragih melalui Kasat Reskrim R. Manalu saat dimintai keterangan membenarkan kejadian ini pemilik rumah sedang kegereja. Od-60

Objek Wisata Baktiraja Layak Dikembangkan

HUMBAHAS - Objek wisata Baktiraja yang berada di Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbahas sangat layak untuk dikembangkan. Selain memiliki keindahan alam yang luar biasa, objek wisata Baktiraja juga bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Demikian diungkapkan salah seorang warga Baktiraja, Tarida Lumbangaol, Selasa (4/6). Tarida mengatakan Baktiraja merupakan tempat yang bersejarah. Alam di sana sejuk dan memiliki pemandangan yang indah.
Dari Bukit Baktiraja, bisa memandang keindahan alam hingga ke Danau Toba.
Selain itu, sambung Tarida, Baktiraja memiliki tiga air terjun. Yakni air terjun Janji, air terjun Sipultak Hoda dan air terjun Aek Sipangolu. Masih di komplek Baktiraja, juga ditemukan tempat sakral.
“Tempat sakral itu ada situs istana Sisingamangaraja XII, Tombak Sulu-sulu dan masih banyak yang memiliki nilai sejarah,” paparnya.
Menurutnya, ketika pemerintah memberikan sentuhan serta perhatian terhadap objek wisata Baktiraja bisa menghasilkan PAD. Di mana saat ini masyarakat sangat suka dengan berwisata.
“Apalagi kalau objek wisata ini bisa dipublikasikan sampai ke mancanegara, mungkin akan menjadi sasaran wisatawan mancanegara,” katanya.
“Masyarakat di desa ini berharap pemerintah mengalokasikan anggaran untuk mengembangkan objek wisata ini. Masyarakat sangat wellcome,” tukasnya.
Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan Humbahas Nelson Lumbantoruan mengakui bahwa objek wisata Baktiraja menyimpan cerita sejarah.
erdasarkan sejarah adat marga Toga Simamora dan Toga Sihombing pertama sekali tinggal di Desa Tipang.
Cerita sejarah, Tipang dulunya bernama Siamak Pandan Nauli dan merupakan nama putri Siraja Lontung, kemudian nama itu saat ini menjadi Tipang “Secara ringkas tipang menjadi bonapasogit Toga Simamora dan Toga Sihombing,” ujar Nelson.
“Pemkab Humbahas telah merencanakan objek wisata Baktiraja akan dikembangkan. Memang objek wisata itu punya banyak potensi,” lanjutnya. (juan/osi)

Senin, 03 Juni 2013

Sumur Berusia 77 Tahun di Lintongnihuta

Robelman Sihombing saat berada di dekat sumur Mual Simanampang yang berusia 77 tahun.
HUMBAHAS – Sumur tua dengan nama Mual Simanampang berusia 77 tahun, terdapat di Pasar Lama, Kecamatan Lintongnihuta, Humbahas. Sumur Mual Simanampang dibangun tanggal 29 Juli 1936. Namun saat ini sumur tersebut tidak difungsikan lagi.
Menurut warga di Pasar Lama, Desa Pargaulan, Kecamatan Lintongnihuta, sumur tersebut dulunya adalah sebagai satu-satunya tempat pengambilan air oleh warga.
“Sumur itu dibangun saat masih zaman penjajahan Belanda. Dulu, menurut cerita para orangtua kami, dari sumur itulah semua warga mengambil air. Baik untuk mandi, mencuci dan air minum,” ujar Robelman Sihombing (50), salah seorang warga, Sabtu (1/6).
Dia mengisahkan, untuk membangun tembok sumur tersebut, warga meminta bahan semen dari kolonial Belanda yang saat itu sedang membangun sebuah jembatan di desa mereka. “Jadi, sumur itu hasil gotong royong warga dan bantuan semen dari Belanda,” papar Robelman.
Ia menyebut, sekitar tahun 1970-an, sumur tersebut sudah tidak digunakan warga lagi. “Karena warga sudah mulai membuat sumur di rumah masing-masing. Jadi, sejak tahun 1970-an sumur itu tidak pernah dirawat lagi. Padahal, dahulu sumur itulah satu-satunya sumber air minum di desa ini,” katanya.
Senada juga diungkapkan warga lainnya, J Sianturi (40). Ia berharap agar warga di desa itu suatu saat memugar sumur tersebut. “Tapi kalau bisa dibantu jugalah oleh pemerintah dananya,” harap Sianturi. Ia beralasan, bahwa pemugaran sumur tua tersebut adalah suatu upaya untuk mengingat sejarah.
“Karena sejarah keberadaan sumur itu juga penting diketahui anak-anak kita saat ini. Artinya, supaya kita lebih menghargai apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyang kita,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, seorang pecinta sejarah di Humbang Hasundutan, Burju Lumban Toruan mengatakan, niat baik warga tersebut harus didukung.
“Sejarah perlu diingat, sebab sejarah dapat memberikan pendidikan, motivasi dan menimbulkan kecintaan pada sesama. Termasuk juga menghargai perjuangan nenek moyang kita. Jadi, saya setuju agar sumur itu dipugar kembali,” kata Burju. (juan/hsl)

Minggu, 02 Juni 2013

Kemenhut: HTI TPL adalah Hutan Produksi Milik Negara

DOLOKSANGGUL : Dirjen Kementerian Kehutanan meninjau kawasan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikelola oleh PT Toba Pulp Lestari Tbk, di kawasan hutan Tele, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Rabu (29/5).

Rombongan dipimpin Dirjen Bina Usaha Kehutanan pada Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ir Bambang Hendroyono MM didampingi Bupati Humbahas Drs Maddin Sihombing MSi, pejabat eselon II Pemkab, perwakilan DPRD Humbahas dan perwakilan investor Toba Pulp Laksamana Adiyaksa dan managemen Toba Pulp yang diwakili Direktur Juanda Panjaitan.
Dirjen mengatakan, ada magnet yang memanggil institusinya ke Tele, Humbahas, terkait kawasan HTI Toba Pulp yang dipersoalan masyarakat sebagai ‘tanah ulayat’. “Saya ke sini untuk menyelesaikan masalah konsesi HTI Toba Pulp yang diklaim milik masyarakat,” katanya.
Disebutkannya, ada beberapa kriteria pengelolaan hutan, diantaranya hutan produksi, hutan lindung, hutan tanaman pokok. “Dan, yang diizinkan kepada Toba Pulp adalah pengelolaan hutan produksi,” ucapnya.
Terkait permasalahan hutan adalan tanggungjawab Kemenhut. “Jadi, ini tanggungjawab saya,” cetusnya seraya menjelaskan, izin yang diberikan untuk dikelola Toba Pulp ialah hutan produksi milik negara.
Sumber Kehidupan
Berkaitan dengan pemberian ijin tersebut bukan asal-asalan, tetapi sudah melakukan pengamatan, survei dan sebagainya juga tanggungjawab pemerintah untuk memberikan keamanan kepada investor.
“Negara tidak mungkin memberi ijin kepada perusahaan kalau tidak untuk kepentingan negara dan masyarakat. Setiap investasi masuk ke hutanan pasti menampung tenaga kerja. HTI diberi pasti ada masyarakat di sana. Kebijakan itu dibuat supaya kelestarian dan kesejahteraan itu dapat berjalan.
Dari luas yang diberikan, sekitar 70% bisa dijadikan tanaman pokok HTI, dan ijin itu sesuai siklus tanam dengan cara yang clear and clean.
Dirjen Kemenhut berpesan kepada TPL, untuk memiliki mindset (cara pandang) yang sesuai dengan ketentuan pemerintah. “Perusahaan harus benar-benar melihat kepentingan masyarakat.
Terkait tumbuh berkembangnya Kemenyan dikonsesi HTI Toba Pulp, Dirjen berharap, agar diperhatikan sebagai sumber kehidupan untuk masyarakat Humbahas, khususnya Sipituhuta-Pandumaan, karena merupakan salah satu mata pencarian.
“Biarkanlah dia (kemenyan) hidup untuk berproduksi lebih baik,” ucapnya seraya menambahkan, pohon kemenyan yang ada ini tidak boleh ditebang.
Dalam kunjungannya, Dirjen Bina Usaha Kehutanan pada Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ir Bambang Hendroyono MM menyaksikan pohon-pohon kemenyan (styrax benzoin) di areal kerja Toba Pulp (PT Toba Pulp Lestari Tbk) yang tidak diganggu, agar terus dapat diambil getahnya sebagai hasil hutan non-kayu oleh petani lokal, di Pasar-9 Tele, serta menyaksikan Sungai Aek Simonggo yang selalu dituding oleh masyarakat telah mengering sebagai dampak pembangunan HTI, tetapi nyatanya masih berair deras. Od-25/60