Senin, 24 Juni 2013

Lubang di Jalinsum Doloksanggul Ancam Pengendara

HUMBAHAS - Lubang sedalam 1,5 meter di Jalan lintas Sumatera (Jalinsum) kilometer 2,5 Dolok Sanggul, Kecamatan Doloksanggul, Kabupaten Humbahas ancam pengendara. Jika tidak segera diperbaiki, lubang di badan jalan tersebut akan semakin melebar.
Andy Siregar (27), salah seorang warga di Dolok Sanggul, Rabu (19/6) mengatakan, lubang di badan jalan itu sudang berlangsung cukup lama. “Awalnya lubang itu terjadi karena air dari jalan raya tidak bisa mengalir ke drainase. Karena terus tergenang, akhirnya timbul lubang kecil dan semakin melebar,” ungkapnya.
Menurut dia,  ketika melintas dari sekitar lokasi, lubang tersebut terkadang tidak terlihat karena ditutupi semak belukar. Namun kondisi itu juga bisa membahayakan pengguna jalan. Sebab kondisi lubangnya cukup dalam dan mengancam para pengendara.
“Jika tidak segera diperbaiki, lubang tersebut akan semakin melebar dan memakan korban. Sebaiknya pemkab melalui instansi terkait segera memperbaiki jalan tersebut,” terang Andy.
Warga lainnya Samosir menyebutkan hal senada. Menurutnya, keberadaan lubang itu sangat mengancam pengendara. “Jika dibiarkan terus menerus, kondisi lubang akan semakin melebar,” sebutnya.
Samosir mengatakan, hingga saat ini memang belum ada korban jiwa, namun jangan menunggu korban baru jalannya diperbaiki. Seharusnya pemkab lebih tanggap menangani persoalan ini. (juan)

Rabu, 12 Juni 2013

Manfaatkan Jerami Jadi Kompos

PORSEA  - Jerami batang sisa hasil panen padi, ternyata bisa dimanfaatkan menghasilkan rupiah. Ahli pertanian telah menemukan bokasi memanfaatkan jerami untuk pembuatan kompos.
Setiap musim panen padi, biasanya petani menjadikan jerami bekas panennya menjadi benteng persawahan. Bahkan, ada juga yang membakar jerami bekas panennya karena dianggap, jerami tidak ada ubahnya dengan sampah yang tidak ada manfaatnya untuk pertanian.
Dengan kehadiran ahli bokasi di Tobasa, petani di sana mendapat pendidikan bagaimana mengolah jerami menjadi kompos. Kepada petani, PPL Pertanian Kecamatan Porsea, Tobasa, Marlin Marpaung menjelaskan bagaimana mengolah jerami menghasilkan rupiah.
Marlin mengatakan pendidikan pengolahan jerami menjadi kompos saat ini sangat tepat diketahui petani di Tobasa. Alasannya, saat ini petani padi di Tobasa sedang musim panen. “Kalau musim panen, biasanya petani membakar jerami sisa dari panen. Padahal, dengan sistem bokasi jerami bisa dibuat menjadi kompos,” katanya.
Dia menjelaskan, jerami merupakan bahan dasar pembuatan kompos. Caranya, jerami dikumpulkan dalam 20 bagian dan dapat ditambah dengan rumput dengan dipotong-potong sepanjang 10-15 centimeter. Bahan lainnya adalah, dedak, sekam (20 bagian), gula pasir lima sendok, EM4 sebagai bakteri dekomposer dan air 20 liter.
Setelah bahan yang dibutuhkan lengkap, dilarutkan dengan EM4 di dalam adonan. Adonan digundukkan di atas ubin yang kering dengan ketinggian 15-20 centimeter, kemudian ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari, dengan syarat suhu di antara 30-40 celcius. Setelah 3-4 hari itu, sistem bokasi selesai dan kompos bisa dipergunakan.
“Sistem kerjanya sangat sederhana dan gampang. Namun, masih banyak petani yang belum mengetahui cara pembuatannya. Dengan adanya sosialisasi ini, kita harapkan petani sudah bisa menciptakan rupiah dari jerami, atau setidaknya petani tidak lagi membeli kompos,” paparnya.
Menurutnya, kompos sangat berpotensi meningkatkan hasil pertanian. Pupuk organik jenis kompos yang dibokasi sendiri jauh dari kimia, makanya lebih berkualitas dari kompos lainnya.
“Kita akan mendorong para petani untuk memproduksi pupuk organik menjadi lebih banyak, sehingga bisa dimanfaatkan petani lainnya. Dengan begitu secara otomatis kedepannya kebutuhan pupuk kimia, yang hingga kini sulit didapat petani bisa diantisipasi,” tukasnya. (**/osi)

Senin, 10 Juni 2013

Ribuan Elemen Peduli Samosir menuntut IPK PT.GDS

TOBASA. -Ribuan komponen masyarakat sipil yang tergabung dalam Forum Peduli Samosir Nauli (masyarakat dari berbagai desa, STKS, KSPPM, PSE Katolik, JPIC Capucin, Keuskupan Agung Medan, Earth Society, KDAS, JK-LPK, AMAN Tano Batak, GAMKI Samosir, Radio Samosir Green, Yayasan Raja Lintong Situmorang, KAMU Samosir, Kelompok mahasiswa Medan, Tim Advokat/TAPAK ADAT, LSM Perintis-Samosir, dll) menuntut pencabutan Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) PT Gorga Duma Sari (PT GDS), yang diberikan pemerintah Kabupaten Samosir seluas 800 ha di Hutan Tele, dengan melakukan demonstrasi ke kantor bupati Kabupaten Samosir. 

Namun, ribuan warga ini, tidak berhasil bertemu dengan Bupati. Jangankan Bupati, Sekda, dan pejabat teras lainnya di kantor bupati ini tidak ada yang bisa dijumpai. Humas kantor bupati dan Asisten III, yang menemui warga, langsung diserang warga dengan berbagai pertanyaan tentang ketidak hadiran para pejabat penting di kabupaten ini. Sempat terjadi caos, karena Kadis Kehutanan tetap berkelit dan mengatakan bahwa penerbitan ijin sudah sesuai hukum, dan tidak mudah untuk mencabut ijin tersebut. 



Warga langsung meneriaki Kadis. Kadis dengan angkuhnya meninggalkan massa, dan saat itulah terjadi keributan, karena tiba-tiba muncul aksi lempar-lempar batu. Kapolres Kabupaten Samosir berkali-kali mengingatkan, agar massa peserta aksi tidak berbuat anarkis dan tidak melanggar hukum, dengan memaksakan masuk ke dalam kantor bupati tanpa ijin. Massa langsung meneriaki Kapolres dan mengatakan bahwa kantor itu adalah milik rakyat...Uskup (emeritus) juga mengatakan: bahwa ada perbedaan persepsi di antara pemerintah dan masyarakat dalam melihat persoalan ini, apakah pemerintah tidak memiliki hati nurani melihat penderitaan rakyat? Rakyat tidak akan melakukan tindakan melanggar hukum. 



Yang duluan melanggar hukum adalah Bupati (pemerintah) dengan menerbitkan ijin kepada PT GDS...Melihat tidak ada lagi gunanya berlama-lama di kantor bupati ini, sekitar pkl.14.30.Wibb, massa bergerak menuju kantor Dinas Kehutanan, selanjutnya bergerak menuju Hutan Tele. Di Hutan Tele, akan dilakukan penanaman pohon di areal bekas penebangan PT GDS.

Sumber : Suryati Simanjuntak (Dirut Executive  KSPPM )

Bakal Calon Bupati Taput Sanggam Hutapea Akan Benahi Taput

TAPUT – Bakal calon (Balon) Bupati Taput Ir Sanggam Hutapea MM ingin membenahi konsep pembangunan Taput jika terpilih pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) bulan Oktober mendatang. Putra Bonapasogit ini mengaku sangat prihatin dengan konsep pembangunan, serta administrasi politik dan birokrasi Taput.
“Saya menyatakan siap mencalonkan diri pada Pilkada Taput bukan karena faktor ambisi pribadi, namun karena adanya permintaan serta dukungan dari masyarakat Taput,” ujar Sanggam dihadapan ratusan pendukungnya dari 15 Kecamatan se-Taput ketika mengadakan konsolidasi internal dengan simpatisan di Wisma Evi Roida Tarutung, Sabtu (8/6).
Untuk konsep pembenahan, lanjut direktur Jakarta Confresion Center (JCC) ini, dirinya telah mempersiapkannya. Yang menjadi sekala prioritas adalah konsep pembenahan Taput untuk kesejahteraan masyarakat. Kemudian, menyangkut administrasi politik dan bikrokrasi.
Untuk menampung aspirasi masyarakat, selama 2 tahun sudah, Sanggam terjun langsung mengunjungi masyarakat. Selama 2 tahun itu, Sanggam mengunjungi 180 desa serta menampung aspirasi masyarakatnya.
“Setelah saya turun langsung menemui masyarakat, saya telah mencatat poin-poin yang dibutuhkan masyarakat dari pemerintah. Kemudian telah merumuskan konsep pembangunan secara komperenship. Nanti, setelah saya terpilih menjadi Bupati Taput, saya tinggal mengaplikasikannya sesuai kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia mengaku bahwa alasannya maju dalam pilkada Taput, sebagai dedikasi putra Bonapasogit membangun kampung halamannya. Selain itu, dirinya berkeinginan membangun paradikma baru tentang hubungan pemimpin, birokrasi dengan masyarakat.
Sebab antara pemimpin dan birokrasi seharusnya tidak ada batas. Demikian juga dengan birokrasi bukan merupakan unit kerja yang melayani atasannya atau penguasa yang harusnya adalah pelayan publik.
Jabatan kepala daerah bukan sebagai tangga dinasti yang memiliki garis estapet, melainkan sebagai amanah yang dipercayakan masyarakat untuk mensejahterakan masyarakat,” ujarnya.
Mariduk Pasaribu mewakili tokoh masyarakat Siborongborong, mengatakan bahwa sejauh ini pembangunan di Taput masih tergolong stagnan. Sehingga konsep paradigma baru yang menjadi tugas pertama yang diemban Sanggam Hutapea merupakan tugas mulia. Sebab Taput memang membutuhkan konsep untuk baru dalam pembangunan.
“Masyarakat butuh konsep baru untuk pembangunan Taput,” katanya. Hal senada diungkapkan Sampe Silitongah, warga mewakili Kecamatan Sipahutar. Ia mengutarakan, bahwa Taput membutuhkan pemimpin berfigur yang energik yang memiliki konsep baru membawa Taput pada perubahan yang lebih baik.
“Selaku tokoh masyarkat dari Sipahutar, kami siap mendukung dan mengantar Ir Sanggam Hutapea menjadi bupati Taput mendatang,” jelasnya.
Selain Sampe, perwakilan masyarakat Garoga Jakkob Hasibuan mengatakan hal yang sama. Namun secara prinsip menurut Hasibuan pemimpin baru haruslah orang yang sudah memiliki program terhadap pembangunan daerah. Sehingga bukan tokoh yang mengejar kekuasaan.
Serupa diungkapkan mewakili warga Kecamatan Parmonangan, Monang Manalu. Dia mengatakan bahwa selama ini daerah mereka secara kusus merupakan daerah yang membutuhkan perhatian serius. Sehingga secara tegas, masyarakat yang ingin maju untuk sejahtera harus memilih orang yang tepat diwaktu yang tepat.
Sosok Sanggam Hutapea menurut Monang adalah pemimpin masa depan. Sebab, jauh sebelum ikut dalam pilkada Taput, Sanggam Hutapea sudah memberikan bantuan untuk mendukung pembangunan rakyat.
“Menurut kami Sanggam Hutapea itu sosok yang peduli dengan kesejahteraan masyarakat, sebab jauh hari sebelum ada wacana pilkada beliau (Sanggam Hutapea) sudah sering memberi perhatian terhadap daerah Bonapasogit ini.
Antara lain pada sektor pertanian, sosial dan kemasyarakatan. Untuk itu kami siap mengantar Sanggam Hutapea menjadi Bupati Taput dalam pilkada 2013 nanti,” ucapnya. (cr-01/osi)